Selamat Jalan Pak Harto.
Sekitar jam 1 siang, gua lagi ngenet di depan Plaza Andalas Padang. Pas mau buka email gua di Yahoo, tau-tau yahoo nurunin berita Suharto died 4 minutes ago. Kemudian gua cari berita tersebut di mesin pencari Yaho dan Google. Ternyata belum ada yang memberitakan berita ini kecuali situs BBC Inggris sebagai breaking news. Pas gua masuk plaza, gua baru liat hamper seluruh tv yang di setel di plaza tayangin berita kematian mantan presiden kita.
Gua teringat beberapa tahun yang silam, di awal masa kuliah gua di UGM. Ospek betul-betul dijadikan kakak-kakak angkatan untuk latihan demo. Gua yang baru lulus SMU di Jakarta, yang tahunya Pak Harto dan Golkar itu tanpa cela, tiba-tiba masuk dalam lingkungan dimana temen-temen gua yang lebih tua, banyak yang hobi banget ngomongin politik dan jalannya pemerintahan. Bukan cuma itu, dosen pancasila gua pun seolah ga bosen ngomongin sisi kekurang bagusan “eyang” (ngambil istilah dari dia) tiap ngajar.
Ketika Pak Harto akan menerima kembali jabatan presiden untuk yang kesekian kalinya, temen-temen di senat makin rame. Dari situ gua belajar sedikit demi sedikit tentang apa yang dibilang orang-orang sebagai “Dosa-dosa Suharto”. Tentang kemungkinan keterlibatan dia dalam peristiwa G 30 S sih, gua sering denger gosipnya. Tapi bagaimana dia menjalankan pemerintahan selama 32 tahun yang seolah adem ayem karena media ga pernah ekspos riaknya, ini dia yang gua baru ngerti.
Gua ga ngerti politik sih, karena gua ga tertarik kesana. (itulah kenapa gua ga masuk Fisipol aja), tapi gua yang bego politik ini baru ngeliat bahwa 8 jalur pemerataan yang diajarin guru PPKN gua dulu ternyata belum merata seperti yang guru gua sering bilang. Dibanyak daerah yang golkar kalah, pembangunan sarana fisik terganggu. Padahal dulu gua dengan bangganya kampanye untuk Golkar dan nyoblos partai tsb. (tapi gua ga nyesel sih, abis gua pikir partai apapun ga jauh bedanya).
Pas Pak Harto akhirnya benar-benar jadi presiden lagi, UGM mengadakan referendum. 98 civitas akademika UGM menolak Pak Harto jadi presiden. Demo besar-besaran selalu terjadi di kampus. Bahkan Pak Rektor turun keliling kampus menyerukan mahasiswanya untuk demo. Gua pun larut dalam kegilaan ini. Hasilnya 20 Mei ada demo akbar se-Yogya, dan besoknya Pak Harto lengser.
Sekarang, sudah hamper satu dekade semenjak kejadian itu. Banyak sekali orang (di tv maupun temen diskusi) yang masih “dendam” same yang tersebut. Tapi bagi yang pro, jangan kesel dulu sama mereka, sebab bagaimanapun, hampir 100% orang Indonesia tetap mengakui setulus hati bahwa jasa Pak Harto itu jasanya sangat besar bagi bangsa ini. Termasuk mereka suka mencacinya.
Bagi gua pribadi, bicara tentang kesalahan manajemen, mungkin ada hikmah yang bias diambil dimasa mendatang. Tapi bicara soal korupsi. Nah ini dia. Ini hal yang paling melekat pada diri mendiang. Diisukan telah mengambil uang negara sekian milyar atau trilyun. Karena telah meninggal maka anak-anaknya harus menanggungnya. Bukannya gua yakin bahwa dia bersih, tapi bagaimanapun semua itu baru dugaan. Okelah. Taruhlah dia memang korupsi, tapi menuduh korupsi dengan jumlah yang tertentu, kedengaran dikuping gua kayak fitnah. Menurut A Pak Harto korupsi sekian, menurut B sekian, menurut C sekian. Mana yang benar. Iya kalo bener dia korupsi. Kalo ga?. Menurut Islam, kalo Pak Harto ikhlas, maka dosa-dosanya akan diambil oleh jutaan orang yang menuduhnya macam-macam. Kalo dia korupsi, tapi ga sebesar yang disangka, maka yang membesar-besarkannya pun bakal kecipratan dosa di akherat nanti. Jadi lebih aman kalo kita berusaha membawa kasus ini ke pengadilan, tapi ga usah berkoar-koar pak harto korupsi sekian menurut anu. Tapi berhubung sekarang orangnya dah meninggal, seharkan aja pada mekanisme pengadialn yang ada.
Apa anak-anaknya harus nanggung? Yang bener aja. Kalo bapak lo nyolong ayam, mau ga lo digebukin orang? Ga kan?. Tapi kalo ada dugaan anak-anaknya korupsi juga, ya tuntut aja untuk korupsi dirinya sendiri. Jangan bawa-bawa bapaknya.
Tapikan kalo duit hasil korupsi didapet negara, kan bisa untuk hal yang bermanfaat. Pernyataan ini ga secermerlang kedengarannya. Menurut gua dari pada kita ngurusin hal yang ga jelas juntrungannya, mending urus aja preefort di Papua. Kalo bisa diselamatkan negara, uang yang bisa dimanfaatkan jauh lebih besar dan ini lebih jelas juntrungannya dari pada hal diatas.
Akhirnya, selamat jalan Bapak Pembangunan RI. Semoga Allah menerima disisi-Nya. Amin.
leave a comment