Pantai Aia manih dan Batu malin Kundang
disela-sela kesibukan di Maninjau (tahun 2007), gua sempetin main ke Pantai Aia Manih (pantai Air Manis) Padang. sebenernya sih pantai ini biasa aja. (tapi bukannya jelek). yah…! sama lah kaya pantai – pantai yang lain. Pasirnya putih. Banyak kepiting. penduduk lokal suka ngambilin kepiting yang ada dipantai ini.

Disekitar pantai di buat rumah-rumah yang bisa disewa buat istirahat. ada ayunannya juga lagi.



didepan pantai ada dua pulau. yang satu namanya pulau pisang kete (pisang kecil) yang satu pulau pisang gadang (pisang gede). kalo pantai lagi surut, kita bisa berjalan ke pulau pisang kete dengan jalan kaki.


yang paling unik dari adanya batu bersimpuh yang konon dulunya adalah malin kundang. ada seonggok batu yang kalo diperhatikan kaya orang lagi bersujud. sekelilingnya ada puing-puing perahu layar yang udah membatu.





malin kundang, kata tukang foto yang ada disana, konon dulunya benar-benar ada. tapi ia bukan penduduk asli Aia manih. ibunya asli padang. tepatnya desa disekitar yang sekarang adalah jembatan siti nurbaya. dulunya aia manih adalah dermaga yang lumayan besar. (disini gua ga abis fikir. padahal sekitar jembatan siti nurbaya dan teluk bayur kan dermaga juga. mungkin dulunya gedean aia manih). konon malin kundang kecil sempat terjatuh didaerah sini sehingga membuat luka permanen.
ayah malin juga seorang pelaut, tapi ketika berlayar, ia meninggalkan malin dan ibunya dan tak pernah kembali. ketika Malin minta restu ingin merantau, ibunya sangat keberatan karena takut ia tak kembali seperti suaminya. tapi singkat cerita ibunyapun merestui.
tahun berganti tahun, terdengar kabar Malin telah sukses jadi saudagar besar. gosip mengatakan bahwa malin akan berlabuh di dermaga Aia manih. si ibu sudah stand by menantikan Mallin dari jauh-jauh hari. si ibu yang miskin ini tentunya sangat senang anaknya pulang. apalagi Malin tlah jadi orang kaya.
Hari dinanti tiba. Malin yang datang benar-benar Malin kundang anak si ibu miskin yang telah menunggu beberapa lama di dermaga. luka yang ada ditubuhnya makin menguatkan bahwa saudagar yang datang itu adalah Malin Kundang. si ibu langsung mendekati Malin. Malin menolaknya sebagai ibu. si ibu terluka hatinya dan terucaplah sumpah mengutuk malin menjadi batu.
laut menjadi tidak ramah lagi. perahu Malin terhempas menjorok ke pantai dan terbelah. perahu tersebutpun menjadi batu bersama dengan Malin yang bersujud, menyesali kesalahannya.
kesan gua terhadap batu tersebut adalah kecewa. Batu malin kundang itu berwarna kuning dan agak rapuh. gua bukan ahli batu, tapi kayanya kalo batu ini dibiarkan apa adanya, maka akan tampak alami. karena rapuh dan terkikis sama air laut, akhirnya batu ini dilapis. bahan yang buat ngelapisi kayanya sih semen. karena ngelapisinnya ngga rata (ada bagian yang keliatn kuningnya dan ada yang ngga), gua jadi ngerasa kalo batu ini ngga lebih dari kerjaannya para pemahat. emang sih orang sini bersikeras batu ini aslinya emang kaya orang sujud. OK. gua bisa percaya. Tapi ngelapisinnya yang bagus dong! jangan malah keliatan kaya palsu.
kemudian tentang perahunya yang jadi batu. detilnya itu terlalu bagus. ada tali tambang jadi batu, ada gentong jadi batu. tapi gua yang awam batu ini ngerasa ini ngga ada bedanya sama kerjaannya tukang batu di Jakarta. Pas gua tanya, orang sini ngga berani bilang kalo perahu ini emang buatan.
so. walaupun orang sana ngga mau ngaku. tapi gua rasa dulunya didaerah itu emang ada batu yang kaya orang bersujud. mungkin Malin kundang diilhami dari ini, mungkin juga orang sini yang menghubungkan dengan malin kundang. akhirnya karena dirasa bisa jadi aset, dibuatlah kaya keadaan sekarang. kalo emang gini gua sangat setuju banget. emanng harus gini pariwisata kita. tapi kualitasnya yang bagusan lagi dong!
klo emg bnr tu btu asli awk yg laennya kmn??? koq cma gntong+tali yg ngbatu??? coba deh tliti lgi……